Jumat, 30 September 2016

Syarekat Dagang Islam



SYAREKAT DAGANG ISLAM
Oleh : Bapak Rosnendya Yudha

Semangat Samanhudi, semangat kemandirian dan kemerdekaan negeri
Lebih pantas dijadikan patokan Hari Kebangkitan Nasional
1.       Syarekat Dagang Islam lahir bukan karena terinspirasi dari lahirnya Budi Utomo, bahkan Syarekat Dagang Islam lahir terlebih dahulu daripada Budi Utomo. Yaitu lahir pada tanggal 16 oktober 1905, 3 tahun lebih dulu daripada Budi Utomo yang lahir pada tanggal 20 Mei 1908.
2.       Cabang SDI ada di seluruh Indonesia (Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi) kecuali di Papua Barat (Irian Jaya).
3.       Keangotaan SDI Terbuka untuk umum sedangkan Budi Utomo hanya beranggotakan yang masih berhubungan saudara-saudara saja.
SDI berubah nama menjadi syarikat Islam (SI) tahun 1916 dengan jumlah anggota 36.000 anggota dan tahun 1919 anggotanya bertambah menjadi 200.000 anggota.
Kongres I : Diadakan pada tanggal 26 Januari 1913 di Surabaya. Samanhudi disambut secara besar- besaran. Kata Nasional pertama kali di perdengarkan kepada khalayak umum oleh SI.
Laporan Asisten Residen kepolisian tanggal 12 Februari 1913 : massa yang hadir pada Kongres I kurang lebih 8.000-10.000 orang yang dipimpin oleh HOS. Cokro Aminoto.
Program kerja SI dibagi :
1.       Mengenai politik SI, dibuat dewan-dewan daerah.
2.       Menuntut penghapusan kerja dan sistem izin pergi-pergi.
3.       Menuntut penghapusan peraturan diskriminatif dala penerimaan murid di sekolah-sekolah (bidang pendidikan).
4.       SI menuntut dihapuskan segala peraturan undang-undang dan menghambat tersiarnya Islam (bidang agam).
5.       Menuntut pemisaha Yudikatif dan Eksekutif.
6.       Menuntut perbaikan di bidang agrarian tentangpenghapusan (milik tanah).
7.       Menuntut adanya pajak-pajak berdasarkan proporsional serta pajak laba-laba perkebunan (bidang keuangan).
Kalau kita ingin maju, kita harus belajar bagaimana kita dulu pernah maju.
8.       Menuntu pemerintahan untuk memerangi minuman keras dan candu, perjudian, prostitusi, dan melarang menggunakan anak-anak sebagai tenaga kerja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar