Minggu, 23 Oktober 2016

Resensi Buku "Mencari Pahlawan"

RESENSI BUKU “MENCARI PAHLAWAN”

Judul Buku      : Mencari Pahlawan Indonesia
Penulis             : Anis Matta
Penerbit           : The Tarbawi Center Jakarta, Januari 2004
Tebal               : 228 hlm.
Pengantar        : Taufiq Ismail
Jenis                : Kumpulan tulisan

“Ajarkanlah sastra pada anak-anakmu, agar anak pengecut jadi pemberani.”
(Umar bin Khattab)
Kutipan itulah yang disematkan Taufiq Ismail di awal kata pengantarnya pada buku ini. Barangkali memang hal yang tepat ketika seorang Taufiq Ismail menyinggung tentang sastra. Bukan karena latar belakang dirinya yang seorang sastrawan, lebih kepada karena ia ingin  menyinggung bagaimana cara Anis Matta menyuguhkan bukunya, Mencari Pahlawan Indonesia. Ya, tulisan Anis ini memang sedap dibaca. Diksi yang Anis pilih tidak hanya sekadar tepat untuk menyampaikan pesan, tetapi juga mengandung unsur estetika yang membuat pembaca tidak bosan-bosannya menikmati kata demi kata yang tertuang dalam buku ini. Lebih jauh, Anis pun membahas kaitan sastra dengan para pahlawan mukmin sejati yang ia tulis pada kolom “Apresiasi”. “Para pahlawan mukmin sejati menyimpan kelembutan pada hatinya,” begitu Anis mengawalinya. Kemudian pada paragraf keempat Anis menjelaskan bahwa puisi atau sastra secara umum adalah instrumen yang membahasakan kelembutan jiwa mereka. Kata “mereka” disini adalah para pahlawan mukmin sejati. Puisi juga memberi mereka inspirasi dalam memaknai gerakan-gerakan jiwa mereka, membuat mereka lebih dekat dengan perasaan-perasaan mereka sendiri, membantu mereka memahami sabda alam dan menangkap makna-makna kemanusiaan yang paling dalam yang senantiasa terlahir dari nurani manusia.
Pahlawan. Apa yang terbesit dalam pikiran Anda ketika mendengar kata itu? Apakah ia adalah seorang yang dicatat dalam buku sejarah? Atau ia adalah seorang yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan? Dan mengapa judul buku ini adalah Mencari Pahlawan Indonesia? Pahlawan seperti apa yang Anis maksud? Dan siapakah pahlawan itu?
“Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis,” begitu ujar Anis. Lalu kemudian dia menegaskan bahwa seorang pahlawan tidak harus dicatat dalam buku sejarah. Atau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Mereka juga melakukan kesalahan dan dosa, karena mereka bukan malaikat. Mereka hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik untuk orang-orang disekelilingnya. Orang-orang yang melakukan kerja-kerja besar itulah yang kita butuhkan di saat krisis. Bukan orang-orang yang tampak besar tapi hanya melakukan kerja-kerja kecil lalu menulisnya dalam autobiografinya. Barangkali memang krisis yang melanda negeri ini justru disebabkan karena langkanya pahlawan. Ya, seperti yang Anis katakan bahwa masalah kita bukan pada krisis itu, tapi pada kelangkaan pahlawan saat krisis itu terjadi. Itulah barangkali mengapa Anis memberi judul buku ini Mencari Pahlawan Indonesia.
Lalu, apakah yang Anis cari adalah pahlawan yang hanya membebaskan bangsa ini dari krisis? Labih dari itu. Sekiranya yang Anis dambakan bukan saja pahlawan yang membebaskan bangsa ini dari krisis. Namun lebih jauh, bahkan merambah pada dunia pemikiran, pendidikan, keilmuan, pembisnis, kesenian dan kebudayaan.
Sekarang pertanyaannya adalah, siapa pahlawan itu? Andakah pahlawan itu? Jika Anda merasa pahlawan itu bukan Anda, apakah lantas Anda akan menunggu? Jika kita menunggu pahlawan itu datang, maka mereka tak akan pernah datang. Mereka sejatinya sudah ada di sini. Mereka bahkan lahir dan besar di negeri ini. Karena mereka bukan orang lain, bisa saja aku, kau, kita semua. “Mereka hanya belum memulai. Mereka hanya perlu berjanji untuk merebut takdir kepahlawanan mereka; dan dunia akan menyaksikan gugusan pulau-pulau ini menjelma menjadi untaian kalung zamrud kembali yang menghiasi leher sejarah,” begitu pungkas Anis di akhir buku ini. Buku ini mencoba menuntun kita untuk membuka mata tentang tugas-tugas kita dan bagaimana seharusnya kita bekerja dalam sebuah dimensi kehidupan. Ya, karena pahlawan itu bisa saja aku, kau, dan kita semua.
Mencari Pahlawan Indonesia, merupakan himpunan 76 kolom serial kepahlawanan majalah Tarbawi yang ditulis oleh Anis Matta. Namun, uniknya tulisan-tulisan dalam buku ini dapat dinikmati secara utuh sebagai satu kesatuan. Antara kolom yang satu dengan kolom yang lain saling berkaitan. Namun kita tetap bisa menikmatinya kolom per kolom sebagai suatu keseluruhan ide yang utuh.
Jika dibandingkan dengan buku sebelumnya, Menikmati Demokrasi, buku ini memang sangat berbeda. Selain memang pembahasannya yang berbeda, penyajian yang mempertimbangkan aspek estetika membuat buku ini lebih memukau jika dibandingkan dengan buku Menikmati Demokrasi yang cenderung lebih serius. Namun, bagi sebagian orang yang kurang menyukai sastra, mungkin ada kelemahan tersendiri dalam menilai buku ini. Tapi buku ini tetap bisa menyampaikan pesan dengan tepat dengan metafora yang cerdas.
Buku ini diperuntukan untuk siapa saja yang mendambakan pahlawan di negeri ini, atau siapa saja yang merasa terpanggil ketika melihat kondisi negeri ini. Terlebih bagi yang menyukai sastra, buku ini akan membuat Anda terpukau dengan diksi yang tepat, metafora yang cerdas, dan dibalut dengan estetika yang memesona.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar