RESENSI
BUKU “MENCARI PAHLAWAN”
Judul
Buku : Mencari Pahlawan Indonesia
Penulis : Anis Matta
Penerbit : The Tarbawi Center Jakarta, Januari 2004
Tebal : 228 hlm.
Pengantar : Taufiq Ismail
Jenis
: Kumpulan tulisan
“Ajarkanlah
sastra pada anak-anakmu, agar anak pengecut jadi pemberani.”
(Umar
bin Khattab)
Kutipan itulah yang disematkan Taufiq Ismail di awal kata
pengantarnya pada buku ini. Barangkali memang hal yang tepat ketika seorang
Taufiq Ismail menyinggung tentang sastra. Bukan karena latar belakang dirinya
yang seorang sastrawan, lebih kepada karena ia ingin menyinggung
bagaimana cara Anis Matta menyuguhkan bukunya, Mencari Pahlawan
Indonesia. Ya, tulisan Anis ini memang sedap dibaca. Diksi yang Anis pilih
tidak hanya sekadar tepat untuk menyampaikan pesan, tetapi juga mengandung
unsur estetika yang membuat pembaca tidak bosan-bosannya menikmati kata demi
kata yang tertuang dalam buku ini. Lebih jauh, Anis pun membahas kaitan
sastra dengan para pahlawan mukmin sejati yang ia tulis pada kolom “Apresiasi”.
“Para pahlawan mukmin sejati menyimpan kelembutan pada hatinya,” begitu Anis
mengawalinya. Kemudian pada paragraf keempat Anis menjelaskan bahwa puisi atau
sastra secara umum adalah instrumen yang membahasakan kelembutan jiwa mereka.
Kata “mereka” disini adalah para pahlawan mukmin sejati. Puisi juga memberi
mereka inspirasi dalam memaknai gerakan-gerakan jiwa mereka, membuat mereka
lebih dekat dengan perasaan-perasaan mereka sendiri, membantu mereka memahami
sabda alam dan menangkap makna-makna kemanusiaan yang paling dalam yang
senantiasa terlahir dari nurani manusia.
Pahlawan. Apa yang terbesit dalam pikiran Anda ketika
mendengar kata itu? Apakah ia adalah seorang yang dicatat dalam buku sejarah?
Atau ia adalah seorang yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan? Dan mengapa
judul buku ini adalah Mencari Pahlawan Indonesia? Pahlawan seperti
apa yang Anis maksud? Dan siapakah pahlawan itu?
“Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke
bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk
kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan
pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis,”
begitu ujar Anis. Lalu kemudian dia menegaskan bahwa seorang pahlawan tidak
harus dicatat dalam buku sejarah. Atau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.
Mereka juga melakukan kesalahan dan dosa, karena mereka bukan malaikat. Mereka
hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk
memberikan yang terbaik untuk orang-orang disekelilingnya. Orang-orang yang
melakukan kerja-kerja besar itulah yang kita butuhkan di saat krisis. Bukan
orang-orang yang tampak besar tapi hanya melakukan kerja-kerja kecil lalu
menulisnya dalam autobiografinya. Barangkali memang krisis yang melanda negeri
ini justru disebabkan karena langkanya pahlawan. Ya, seperti yang Anis katakan
bahwa masalah kita bukan pada krisis itu, tapi pada kelangkaan pahlawan saat krisis
itu terjadi. Itulah barangkali mengapa Anis memberi judul buku ini Mencari
Pahlawan Indonesia.
Lalu, apakah yang Anis cari adalah pahlawan yang hanya
membebaskan bangsa ini dari krisis? Labih dari itu. Sekiranya yang Anis
dambakan bukan saja pahlawan yang membebaskan bangsa ini dari krisis. Namun
lebih jauh, bahkan merambah pada dunia pemikiran, pendidikan, keilmuan,
pembisnis, kesenian dan kebudayaan.
Sekarang pertanyaannya adalah, siapa pahlawan itu? Andakah
pahlawan itu? Jika Anda merasa pahlawan itu bukan Anda, apakah lantas Anda akan
menunggu? Jika kita menunggu pahlawan itu datang, maka mereka tak akan pernah
datang. Mereka sejatinya sudah ada di sini. Mereka bahkan lahir dan besar di
negeri ini. Karena mereka bukan orang lain, bisa saja aku, kau, kita semua.
“Mereka hanya belum memulai. Mereka hanya perlu berjanji untuk merebut takdir
kepahlawanan mereka; dan dunia akan menyaksikan gugusan pulau-pulau ini
menjelma menjadi untaian kalung zamrud kembali yang menghiasi leher sejarah,”
begitu pungkas Anis di akhir buku ini. Buku ini mencoba menuntun kita untuk
membuka mata tentang tugas-tugas kita dan bagaimana seharusnya kita bekerja
dalam sebuah dimensi kehidupan. Ya, karena pahlawan itu bisa saja aku, kau, dan
kita semua.
Mencari Pahlawan Indonesia, merupakan himpunan 76
kolom serial kepahlawanan majalah Tarbawi yang ditulis oleh Anis Matta. Namun,
uniknya tulisan-tulisan dalam buku ini dapat dinikmati secara utuh sebagai satu
kesatuan. Antara kolom yang satu dengan kolom yang lain saling berkaitan. Namun
kita tetap bisa menikmatinya kolom per kolom sebagai suatu keseluruhan ide yang
utuh.
Jika dibandingkan dengan buku sebelumnya, Menikmati
Demokrasi, buku ini memang sangat berbeda. Selain memang pembahasannya yang
berbeda, penyajian yang mempertimbangkan aspek estetika membuat buku ini lebih
memukau jika dibandingkan dengan buku Menikmati Demokrasi yang
cenderung lebih serius. Namun, bagi sebagian orang yang kurang menyukai sastra,
mungkin ada kelemahan tersendiri dalam menilai buku ini. Tapi buku ini tetap
bisa menyampaikan pesan dengan tepat dengan metafora yang cerdas.
Buku ini diperuntukan untuk siapa saja yang mendambakan
pahlawan di negeri ini, atau siapa saja yang merasa terpanggil ketika melihat
kondisi negeri ini. Terlebih bagi yang menyukai sastra, buku ini akan membuat
Anda terpukau dengan diksi yang tepat, metafora yang cerdas, dan dibalut dengan
estetika yang memesona.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar