RESENSI BUKU “MENDESAK BANGSA, SELAMATKAN
INDONESIA”
Judul : Agenda - Mendesak Bangsa, SELAMATKAN INDONESIA!
Penulis : Mohammad Amin Rais
Penerbit : PPSK Press, Cetakan III, Mei 2008
Tebal : xv+298 halaman, 16 x 24 cm
Peresensi : Adi Prastiyo, Ketua Kajian PMII Jakarta Timur
Harga
: Rp 54.000,-
Masalah bangsa Indonesia yang seringkali bergejolak di pikiran kita adalah
mengapa bangsa ini terus saja miskin, terbelakang dan tercecer dalam derap
kemajuan bangsa-bangsa lain. Penulis merupakan seorang akademisi, cendikiawan,
agamawan, serta politisi yang mempunyai kiprah besar dalam perjalanan bangsa
ini. Penulis aktif menyerukan perubahan bangsa ini menjadi bangsa yang lebih
mandiri dan bebas dari cengkeraman asing. Dalam buku ini penulis secara lugas mengungkap
kondisi bangsa Indonesia dengan segala permasalahan besar yang tengah dialami
didukung dengan data dan teori yang akurat serta pengalaman penulis yang telah
lama malang melintang di dunia politik.
Dalam 30 tahun terakhir, dunia menyaksikan bangkitnya imperialisme ekonomi yang
dilancarkan negara-negara Barat, negara–negara eks kolonialis, lewat apa yang
dinamakan globalisasi. Sebagian rakyat Indonesia mungkin tidak menyadari bahwa
bangsa kita tengah berada dalam kondisi genting yakni kita berada di tengah
ancaman neokolonialisme yang ingin merenggut kedaulatan bangsa kita. Penjajahan
sekarang bukan lagi penjajahan secara fisik seperti pada zaman kolonial Belanda
dan Jepang dulu, namun penjajahan sekarang berupa invisible hand yakni tangan
yang tak terlihat namun sedikit demi sedikit meruntuhkan kedaulatan yang kita
miliki. Korporasi-korporasi besar dunia di bawah payung globalisasi telah
menyiapkan jaring-jaring yang siap dibentangkan untuk menjerat dan menguasai
bangsa kita. IMF, Bank Dunia,dan WTO merupakan tiga institusi pilar
globalisasi.
Bangsa Indonesia sedang mengalami krisis jati diri dan krisis identitas.
Bangsa kita telah kehilangan kemandirian bahkan sampai batas yang cukup jauh,
bangsa kita telah kehilangan kedaulatan ekonomi. Dalam banyak hal, bangsa
Indonesia tetap bergantung dan menggantungkan diri pada kekuatan asing.
Kekuatan-kekuatan korporasi telah mendikte bukan saja perekonomian nasional
seperti kebijakan perdagangan, keuangan, perbankan, penanaman modal, kepelayaran
dan pelabuhan, kehutanan, perkebunan, pertambangan migas dan non-migas, dan
lain sebagainya, tetapi juga kebijakan politik dan pertahanan. Mereka membangun
sistem korporatokrasi yang berunsurkan korporasi besar, kekuatan politik
pemerintah, lingkaran militer, perbankan dan keuangan internasional, media
massa dan kelompok intelektual prokemapanan. Unsur-unsur korporatokrasi itu
dapat menerobos ke negara – negara berkembang dengan bantuan elite nasionalnya
yang bersedia menjadi pelayan kepentingan korporatokrasi. Sementara Pax
Americana yang memimpikan supremasi atau hegemoni Amerika Serikat telah
membonceng proses globalisasi itu.
Mengutip pendapat Stiglitz bahwa globalisasi yang berjalan dewasa ini tidak
memberikan manfaat bagi masyarakat dunia dikarenakan ada kelemahan kunci.
Aturan main yang ada dalam proses globalisasi tidak fair dan dirancang
supaya menguntungkan negara-negara kaya dan korporasi, aturan perdagangan dunia
cenderung menenggelamkan negara-negara miskin. Globalisasi mengunggulkan
nilai-nilai material di atas nilai lainnya, sehingga tidak ada perhatian
terhadap lingkungan hidup. Pertumbuhan ekonomi berdasarkan hukum – hukum pasar
yang diusung pada proses globalisasi juga hanya menguntungkan sebagian kelompok
saja dan semakin memperlebar kesenjangan. Amerika serikat sebagai pengusung
inovasi-inovasi globalisasi ini telah memaksakan aturan main ini pada
negara-negara miskin, namun justru telah menimbulkan kerusakan dan menimbulkan
kebencian dan perlawanan. Sebagaimana eksploitasi korporasi PT Freeport McMoran
Indonesia yang telah melakukan kejahatan multidimensional yakni kejahatan
lingkungan, kejahatan kemanusiaan, kejahatan ekonomi, kejahatan hukum serta
kejahatan politik.
Buku ini ditulis untuk
menggugah kesadaran seluruh rakyat Indonesia agar segera bangun dari tidur
lelap, terutama dari kalangan politisi, intelektual muda, para penegak hukum
dan keadilan yang memimpin bangsa ini. Jangan lagi rakyat Indonesia hanya
membangun nasionalisme sekejap yakni nasionalisme yang muncul ketika menyaksikan
para atlet nasional yang berlaga dalam kompetisi olahraga baik regional dan
internasional. Sudah saatnya kita belajar menjadi rakyat yang cerdas yang terus
mempelajari kondisi negara kita dan terus membela negara kita sampai pada tetes
keringat terakhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar