Minggu, 23 Oktober 2016

Resensi "Mendesak Bangsa, Selamatkan Indonesia"

RESENSI BUKU “MENDESAK BANGSA, SELAMATKAN INDONESIA”

Judul               : Agenda - Mendesak Bangsa, SELAMATKAN INDONESIA!
Penulis             : Mohammad Amin Rais
Penerbit           : PPSK Press, Cetakan III, Mei 2008
Tebal               : xv+298 halaman, 16 x 24 cm
Peresensi         : Adi Prastiyo, Ketua Kajian PMII Jakarta Timur
Harga             : Rp 54.000,-


Masalah bangsa Indonesia yang seringkali bergejolak di pikiran kita adalah mengapa bangsa ini terus saja miskin, terbelakang dan tercecer dalam derap kemajuan bangsa-bangsa lain. Penulis merupakan seorang akademisi, cendikiawan, agamawan, serta politisi yang mempunyai kiprah besar dalam perjalanan bangsa ini. Penulis aktif menyerukan perubahan bangsa ini menjadi bangsa yang lebih mandiri dan bebas dari cengkeraman asing. Dalam buku ini penulis secara lugas mengungkap kondisi bangsa Indonesia dengan segala permasalahan besar yang tengah dialami didukung dengan data dan teori yang akurat serta pengalaman penulis yang telah lama malang melintang di dunia politik.
                Dalam 30 tahun terakhir, dunia menyaksikan bangkitnya imperialisme ekonomi yang dilancarkan negara-negara Barat, negara–negara eks kolonialis, lewat apa yang dinamakan globalisasi. Sebagian rakyat Indonesia mungkin tidak menyadari bahwa bangsa kita tengah berada dalam kondisi genting yakni kita berada di tengah ancaman neokolonialisme yang ingin merenggut kedaulatan bangsa kita. Penjajahan sekarang bukan lagi penjajahan secara fisik seperti pada zaman kolonial Belanda dan Jepang dulu, namun penjajahan sekarang berupa invisible hand yakni tangan yang tak terlihat namun sedikit demi sedikit meruntuhkan kedaulatan yang kita miliki. Korporasi-korporasi besar dunia di bawah payung globalisasi telah menyiapkan jaring-jaring yang siap dibentangkan untuk menjerat dan menguasai bangsa kita. IMF, Bank Dunia,dan WTO merupakan tiga institusi pilar globalisasi.
Bangsa Indonesia sedang mengalami krisis jati diri dan krisis identitas. Bangsa kita telah kehilangan kemandirian bahkan sampai batas yang cukup jauh, bangsa kita telah kehilangan kedaulatan ekonomi. Dalam banyak hal, bangsa Indonesia tetap bergantung dan menggantungkan diri pada kekuatan asing. Kekuatan-kekuatan korporasi telah mendikte bukan saja perekonomian nasional seperti kebijakan perdagangan, keuangan, perbankan, penanaman modal, kepelayaran dan pelabuhan, kehutanan, perkebunan, pertambangan migas dan non-migas, dan lain sebagainya, tetapi juga kebijakan politik dan pertahanan. Mereka membangun sistem korporatokrasi yang berunsurkan korporasi besar, kekuatan politik pemerintah, lingkaran militer, perbankan dan keuangan internasional, media massa dan kelompok intelektual prokemapanan. Unsur-unsur korporatokrasi itu dapat menerobos ke negara – negara berkembang dengan bantuan elite nasionalnya yang bersedia menjadi pelayan kepentingan korporatokrasi. Sementara Pax Americana yang memimpikan supremasi atau hegemoni Amerika Serikat telah membonceng proses globalisasi itu.
Mengutip pendapat Stiglitz bahwa globalisasi yang berjalan dewasa ini tidak memberikan manfaat bagi masyarakat dunia dikarenakan ada kelemahan kunci. Aturan main yang ada dalam proses globalisasi tidak fair dan dirancang supaya menguntungkan negara-negara kaya dan korporasi, aturan perdagangan dunia cenderung menenggelamkan negara-negara miskin. Globalisasi mengunggulkan nilai-nilai material di atas nilai lainnya, sehingga tidak ada perhatian terhadap lingkungan hidup. Pertumbuhan ekonomi berdasarkan hukum – hukum pasar yang diusung pada proses globalisasi juga hanya menguntungkan sebagian kelompok saja dan semakin memperlebar kesenjangan. Amerika serikat sebagai pengusung inovasi-inovasi globalisasi ini telah memaksakan aturan main ini pada negara-negara miskin, namun justru telah menimbulkan kerusakan dan menimbulkan kebencian dan perlawanan. Sebagaimana eksploitasi korporasi PT Freeport McMoran Indonesia yang telah melakukan kejahatan multidimensional yakni kejahatan lingkungan, kejahatan kemanusiaan, kejahatan ekonomi, kejahatan hukum serta kejahatan politik. 

Buku ini ditulis untuk menggugah kesadaran seluruh rakyat Indonesia agar segera bangun dari tidur lelap, terutama dari kalangan politisi, intelektual muda, para penegak hukum dan keadilan yang memimpin bangsa ini. Jangan lagi rakyat Indonesia hanya membangun nasionalisme sekejap yakni nasionalisme yang muncul ketika menyaksikan para atlet nasional yang berlaga dalam kompetisi olahraga baik regional dan internasional. Sudah saatnya kita belajar menjadi rakyat yang cerdas yang terus mempelajari kondisi negara kita dan terus membela negara kita sampai pada tetes keringat terakhir.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar